OPINI :
Pagi itu, asap tipis mengepul dari mangkuk bubur ayam hangat di salah satu sudut warung kopi sederhana di Kotabumi. Suasana khas pagi hari langsung terasa hidup, berpadu dengan aroma biji kopi lokal yang baru diseduh. Di meja kayu panjang, beberapa warga tampak asyik berdiskusi. Obrolan mereka bukan soal harga cabai yang naik-turun, melainkan obrolan santai tentang ikon yang berdiri gagah tak jauh dari tempat mereka duduk Tugu Payan Mas.
“Coba deh bayangin, kalau malam Tugu Payan Mas itu lampunya dibuat lebih hidup, lebih artistik kayak bundaran di kota-kota lintas Kabupaten tetangga. Pasti Kotabumi keliatan cantik. Siang tertata rapi tidak ada banner imbauan lalu lintas yang membentang ditengah tugu dan malam cantik dengan hiasan lampu,” buka Mang Udin sambil menyeruput kopi hitamnya.
Pernyataan itu langsung disambut anggukan setuju dari yang lain. Obrolan santai di warung bubur ini pun berubah menjadi ruang urun rembuk warga yang sarat makna suatu perenungan jujur tentang wajah kota tercinta, Lampung Utara.
Bagi para pengemudi truk lintas Sumatra, bus malam, maupun pelintas antarprovinsi yang datang dari arah Sumatra Selatan, Sumatra Utara, atau sekitarnya, nama Kotabumi tentu bukan hal asing. Kota ini adalah simpul nadi mobilitas, tempat bertemunya para musafir jalan raya.
Namun, seperti yang disuarakan di warung kopi tadi, keindahan suatu kota modern tidak hanya diukur saat matahari bersinar.
“Kalau siang sudah sedap dipandang, tentu cantiknya harus juga dimalamnya. Dimulai dari merapihkan kabel yang membentang, banner imbauan lalu lintas yang berada ditengah jalan menutupi keindahan tugu payan dari kejauhan. Terus bayangkan kalau malam ada lampu hias diseluruh bundaran,” kata Siti, seorang ibu rumah tangga yang turut nimbrung diskusi pagi itu.
Banyak Kabupaten tetangga kini berbenah mempercantik tata kota malam mereka. Bundaran-bundaran jalan disulap menjadi titik-titik estetik yang memikat mata, membuat pengendara yang lelah berkendara sekadar melirik terpukau atau bahkan menyempatkan diri beristirahat.
Dengan tata cahaya (lighting) yang dirancang secara profesional, Tugu Payan Mas bisa bertransformasi menjadi mercusuar estetika malam hari di lintas Sumatra. Bayangkan pendar cahaya keemasan yang berpadu dengan sorot lampu artistik menghiasi malam Kotabumi. Bukan hanya mempercantik lanskap, hal ini akan menghadirkan efek domino yang positif:
- Meningkatkan Daya Tarik Wisata Lintasan: Musafir yang biasanya hanya lewat, tergerak untuk singgah, menikmati kuliner lokal, dan mengenang Kotabumi sebagai kota yang memesona.
- Menumbuhkan Ekonomi Kreatif: Ruang publik yang terang dan indah di malam hari akan mengundang denyut ekonomi baru bagi para pelaku UMKM di sekitarnya.
Obrolan pagi di warung bubur itu ditutup dengan tawa renyah dan tetes terakhir kopi. Meski bermula dari obrolan santai, esensi yang disuarakan sarat akan bobot intelektual dan kecintaan mendalam pada daerah.
Perubahan besar selalu berawal dari ruang-ruang diskusi sederhana seperti ini dari suara rakyat yang rindu akan kemajuan kotanya.
“Yuk, kita jaga dan kita ramaikan terus semangat membangun Kotabumi, membangun bukan harus membugar dan membuat yang baru tapi menciptakan suatu karya menarik dan merealisasikannya bagian dari membangun,”cela Yansah menutup obrolan pagi (Red)













