Cilacap- Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, melakukan peninjauan strategis terhadap pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah (used cooking oil / UCO) di PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, Senin (26/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Wapres turut berdialog secara langsung dengan para pengelola bank sampah dari kalangan kaum perempuan.
Peninjauan ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mengakselerasi transisi energi hijau nasional yang berjalan berdampingan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat akar rumput.
Wapres menekankan bahwa inisiatif hilirisasi energi ramah lingkungan harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Pelibatan ibu-ibu rumah tangga melalui bank sampah dinilai sebagai langkah krusial untuk mengonversi limbah domestik bernilai rendah menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi.
“Pengembangan SAF harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Minyak jelantah dari rumah tangga kini memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus terintegrasi langsung ke dalam rantai pasok industri energi nasional,” ujar Wapres.
Pendekatan ini tidak hanya menjawab tantangan pengelolaan limbah domestik, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi komunitas lokal melalui ekosistem ekonomi sirkular yang inklusif.
Lebih lanjut, Wapres memberikan apresiasi tinggi atas capaian inovasi dalam negeri pada proyek SAF Cilacap. Penggunaan bahan baku lokal serta katalis hasil karya anak bangsa dinilai sebagai bukti nyata kesiapan industri nasional dalam mendukung visi strategis Presiden Prabowo Subianto.
Inisiatif ini menjadi pilar penting dalam mewujudkan swasembada energi nasional serta menekan tingkat ketergantungan Indonesia terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil, sejalan dengan komitmen global terhadap penurunan emisi karbon di sektor penerbangan (aviation decarbonization).
Sebagai salah satu fasilitas vital pengolahan energi nasional dengan kapasitas mencapai 348.000 barel per hari (MBSD), Kilang Cilacap mengimplementasikan teknologi pengolahan mutakhir.
Melalui skema co-processing pada fasilitas Treat Gas Hydrotreating (TDHT), kilang ini memproses minyak jelantah yang dicampur dengan kerosin berkualitas tinggi. Fasilitas tersebut kini telah berstatus onstream commercial dengan estimasi produksi bersih SAF yang diproyeksikan mencapai 5.075 kiloliter per tahun.
Langkah strategis ini menandai babak baru transformasi industri pengilangan nasional menuju penyediaan bahan bakar aviasi berkelanjutan yang ramah lingkungan, berdaya saing global, dan berakar pada kemandirian domestik. (Red)













