Jakarta- Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam memastikan seluruh produk riset dan inovasi nasional tidak hanya berhenti pada tataran akademis, melainkan menjadi solusi aplikatif bagi berbagai persoalan mendasar di tengah masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan Presiden dalam pertemuan bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, di Istana Merdeka, Jakarta.
Pertemuan strategis ini memaparkan sejumlah portofolio riset prioritas nasional yang mencakup mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), konversi limbah kelapa sawit menjadi energi alternatif, akselerasi riset vaksin dan obat herbal, serta hilirisasi teknologi pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan, pemerintah menerapkan strategi berlapis yang mengintegrasikan langkah responsif cepat serta mitigasi jangka panjang berbasis sains. Kepala BRIN menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memantau secara berkala perkembangan penanganan karhutla.
Sebagai langkah responsif jangka pendek, BRIN bersinergi lintas instansi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta TNI Angkatan Udara. Kolaborasi ini diwujudkan melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk penerapan teknologi dry ice.
Sementara itu, untuk menghadapi tantangan di masa depan, riset diarahkan pada tingkat menengah dan panjang. Pemerintah memfokuskan pengembangan model perambatan api (fire propagation modeling) guna memperkuat sistem peringatan dini, mengidentifikasi titik kerentanan, serta mengoptimalkan strategi pencegahan karhutla secara berkelanjutan.
Di sektor energi, BRIN melaporkan potensi besar pemanfaatan biomassa dari limbah industri pengolahan kelapa sawit. Limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent / POME) serta tandan kosong sawit memiliki potensi konversi energi listrik hingga kapasitas 3,9 gigawatt.
Lebih lanjut, inovasi ini diarahkan untuk menekan ketergantungan impor gas melalui pemanfaatan biogas yang dikonversi menjadi tabung gas rumah tangga. Langkah strategis ini dinilai krusial mengingat Indonesia masih mengimpor Liquified Petroleum Gas (LPG) dengan nilai mencapai sekitar Rp97 triliun per tahun. Implementasi teknologi ini diharapkan menjadi pilar penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional berbasis sumber daya domestik.
Pada bidang kesehatan dan farmasi, Presiden Prabowo memberikan instruksi tegas untuk mempercepat proses riset dan produksi vaksin nasional. Saat ini, BRIN tengah mengembangkan empat kandidat vaksin malaria.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah, proses riset ini ditargetkan mampu selesai tiga tahun lebih cepat dari jadwal normal. Pengembangan vaksin malaria ini juga diproyeksikan menjadi kontribusi strategis Indonesia bagi dunia kesehatan global, khususnya dalam mengatasi jenis parasit yang belum memiliki vaksin konvensional, seperti Plasmodium vivax.
Selain vaksin, kemandirian sektor farmasi diperkuat melalui peningkatan kualitas riset obat herbal. Saat ini, terdapat 19 kandidat obat herbal di BRIN yang tengah didorong bertransisi dari status Obat Herbal Terstandarisasi (OHT) menuju jenjang fitofarmaka, sehingga dapat terintegrasi secara luas ke dalam sistem layanan kesehatan formal.
Menanggapi persoalan lingkungan perkotaan dan perdesaan, Presiden Prabowo mendorong hilirisasi teknologi tepat guna yang dapat langsung diadopsi oleh masyarakat luas. BRIN akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi guna memberdayakan institusi perguruan tinggi dalam mendampingi pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat desa.
Kepala BRIN menekankan bahwa institusinya berperan sebagai pengembang purwarupa (prototype). Oleh karena itu, sinergi lintas sektor diperlukan untuk memastikan hasil riset laboratorium dapat diaplikasikan secara massal dan memberikan dampak ekonomi serta lingkungan yang nyata.
Seluruh rangkaian inovasi strategis ini dirancang untuk menyokong secara langsung Gerakan ASRI yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo, sekaligus memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia benar-benar berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. (Red)













