Jakarta- Wilayah Lampung dan sebagian besar daerah di Indonesia diprediksi akan mengalami keterlambatan awal musim hujan pada periode 2026/2027. Berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Lampung baru akan memasuki musim hujan pada bulan Desember 2026. Mundurnya kedatangan musim hujan ini tidak lepas dari hantaman kombinasi fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudera Hindia.
Bagi Provinsi Lampung, penundaan ini menjadi perhatian serius. Selain awal musim hujan yang baru menyapa di akhir tahun, Lampung bagian utara diperkirakan baru akan merasakan puncak musim hujan pada Januari 2027, sedangkan Lampung bagian tengah baru memasuki puncaknya pada Februari 2027. Pola ini menuntut kesiapsiagaan ekstra dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat, mengingat Lampung merupakan salah satu lumbung pangan dan perkebunan vital nasional yang sangat bergantung pada kepastian pasokan air.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 mencatatkan angka +2,83 dengan indeks ENSO sebesar +2,63 (periode Juli–September). Angka ini mengindikasikan status El Niño berada pada tingkat sangat kuat. Di saat yang sama, indeks IOD di Samudera Hindia bulan Agustus berada di angka +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga penghujung tahun.
“Kombinasi fenomena El Niño dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan secara nasional terdapat 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08% wilayah Indonesia yang mengalami kemunduran musim hujan dari rerata klimatologisnya. Secara umum, durasi musim hujan 2026/2027 di 482 ZOM (51,90% daratan Indonesia) diprediksi berlangsung lebih pendek dari kondisi normal.
Awal musim hujan di Indonesia bergeser secara bertahap:
- November 2026 (185 ZOM / 24,66%): Meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
- Desember 2026 (266 ZOM / 17,31%): Meliputi sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Kalsel, dan Papua Selatan.
Puncak musim hujan 2026/2027 diproyeksikan terbagi dalam tiga gelombang utama:
- Desember 2026 (155 ZOM / 36,94%): Sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, serta wilayah Papua.
- Januari 2027 (162 ZOM / 25,68%): Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Riau bagian selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bali bagian tengah, sebagian NTT, dan kawasan pulau Papua.
- Februari 2027 (190 ZOM / 16,79%): Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, NTT, Sulawesi Selatan, serta sebagian besar Pulau Papua.
Meski durasinya lebih pendek, sifat hujan secara umum berada pada kategori normal pada 510 ZOM (69,76%). Namun, sebanyak 147 ZOM (18,55%) diprediksi mengalami sifat hujan lebih basah, sementara 42 ZOM (11,69%) cenderung lebih kering atau bawah normal.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab, membeberkan bahwa sebanyak 556 ZOM (61,91% daratan Indonesia) saat ini masih berada dalam kondisi musim kemarau. Monitoring BMKG mencatat fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem di 25 provinsi, di mana wilayah Bantul mencatatkan HTH terpanjang hingga 131 hari.
Menanggapi ancaman kekeringan yang panjang, BMKG menekankan beberapa langkah antisipasi mendesak (early action):
- Sektor Pertanian & Pangan: Penyesuaian jadwal tanam, pemilihan varietas tanaman berumur pendek yang tahan kering, serta optimalisasi pengendalian Organisme Pengganggu Tanapan (OPT).
- Pengelolaan Air & Energi: Penghematan air skala rumah tangga, penambahan kapasitas penampungan air, pengoptimalan elevasi dan inflow waduk untuk operasional PLTA, serta pemetaan potensi cekungan air tanah dan sumur bor oleh Pemda.
- Lingkungan & Kesehatan: Antisipasi penurunan kualitas udara akibat kekeringan dan risiko karhutla pada rentang September–Oktober. Selain itu, pemerintah daerah mengimbau masyarakat bersiap menghadapi lonjakan kasus penyakit pasca-banjir seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) saat hujan mulai turun.
BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan daerah, termasuk di Lampung, agar memanfaatkan data prediksi iklim ini sebagai acuan Peringatan Dini (Early Warning) guna menyusun kebijakan taktis serta berkonsultasi langsung dengan kantor BMKG setempat. (Red)













