Lampung Timur- Menolak Lupa Tragedi Riyas Nuraini, kepergian Riyas bukan sekadar kehilangan angka dalam status kependudukan, melainkan luka menganga yang terus berdarah. Setiap kali angin malam berembus di Labuhan Ratu, ada tanya yang menggantung di udara yakni Siapa yang tega melakukannya? Mengapa hingga kini mereka masih bebas menghirup udara segar, sementara Riyas telah berkalang tanah dalam sunyi?
Rasa sesak itu kian menghimpit ketika malam berganti pagi, dan kasus ini terkesan membeku seolah tertimbun debu waktu. Jeritan hati sang anak yang merindukan dekapan ibunya, serta tatapan kosong sang suami yang menuntut keadilan, menjadi simfoni pilu yang mengiringi lambatnya tabir misteri ini terungkap. Kematian tragis sang kader NU telah menjadi duka abadi yang meletupkan rasa ketidakberdayaan di hati setiap orang yang mengenalnya.
Riyas Nuraini (30) adalah seorang kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) asal Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur. Ia sempat viral dan menjadi sorotan publik pada pertengahan 2024 setelah ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan terbungkus karung di tengah perkebunan jagung. Korban dilaporkan hilang sejak Rabu, 17 Juli 2024. Ia sehari-hari berprofesi sebagai pedagang online yang kerap mengantarkan barang dagangannya dengan sistem Cash on Delivery (COD), Jasad Riyas ditemukan terkubur atau terbungkus di dalam karung di area perkebunan jagung yang berlokasi di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur Kasus ini memicu solidaritas yang masif dari berbagai elemen masyarakat dan organisasi. Ratusan kader Fatayat NU dan badan otonom perempuan NU lainnya sempat menggelar doa bersama serta aksi kawal kasus di Mapolda Lampung untuk mendesak Kepolisian segera menangkap pelaku.
Ditengah pekatnya keputusasaan dan air mata keluarga korban yang mulai mengering, titik terang akhirnya benderang. Angin segar berembus langsung dari Markas Kepolisian Resor (Polres) Lampung Timur.
Masyarakat dan keluarga besar Nahdliyin kini bisa sedikit bernapas lega dan tersenyum optimis. Kapolres Lampung Timur, AKBP Heti Patmawati dengan tegas dan penuh empati menyatakan komitmennya di hadapan tokoh agama dalam agenda Silaturahim Kamtibmas di Pondok Pesantren Darul Fattah, Way Bungur pekan lalu bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Perkara kematian Riyas Nuraini yang berprofesi sebagai pedagang online dengan sistem Cash on Delivery (COD) serta kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Labuhan Ratu bukan lagi sekadar berkas usang di meja penyidik, melainkan suatu utang pihaknya yang harus segera dibayar tuntas.
“Kami akan kerahkan seluruh kemampuan untuk mengungkap siapa saja pelaku di balik tragedi ini. Keadilan untuk almarhumah Riyas Nuraini adalah prioritas kami,”tegas Kapolres Lampung Timur dengan nada penuh keyakinan.
Kabar yang lebih menggembirakan lagi, perjuangan mencari keadilan ini tidak lagi berjalan sendirian di tingkat Daerah. Perkara kematian Riyas Nuraini kini telah naik kelas dan menjadi atensi khusus dari Markas Besar (Mabes) Polri serta Kepolisian Daerah (Polda) Lampung.
AKBP Heti Patmawati memberikan penjelasan transparan mengenai progres penyelidikan kasus yang menyita perhatian publik ini. Ia memastikan bahwa pengungkapan kasus Riyas menjadi atensi penuh Polres Lampung Timur.
“Kami memprioritaskan pengungkapan kasus ini. Seluruh kekuatan telah kami kerahkan. Bahkan, sebagai bentuk keseriusan, kami telah mendapatkan atensi dan bantuan tim dari Mabes Polri serta Polda Lampung untuk mempercepat proses pengungkapan kasus ini,” tegas AKBP Heti
Menanggapi langkah tersebut, Ketua PC GP Ansor Lampung Timur, KH M Muslih, menyambut positif upaya Kepolisian dalam membuka ruang komunikasi. Bagi Ansor, pertemuan itu merupakan langkah konkret untuk meredam kegelisahan masyarakat. KH M Muslih mengakui bahwa keluarga besar Ansor, Banser, dan Fatayat NU masih diselimuti duka mendalam. Ia berharap proses hukum segera menemukan titik terang sebagai bentuk pemenuhan rasa keadilan bagi korban dan keluarga,“Melalui silaturahim ini, setidaknya ada harapan keadilan yang muncul. Kami tetap mempercayakan penuh proses pengungkapan kasus ini kepada Polres Lampung Timur,”harapnya lirih.
(Sandi Putra/ Red)













