Satu Hari 90 Butir, Intip Keberhasilan Program Kemandirian Pangan di Lapas Way Kanan

Way Kanan – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kotabumi/Way Kanan kembali membuktikan bahwa jeruji besi bukan hambatan untuk tetap produktif. Melalui program pembinaan kemandirian, Lapas Way Kanan sukses menorehkan prestasi di bidang ketahanan pangan. Tidak tanggung-tanggung, program budidaya ayam petelur yang dikelola oleh para warga binaan kini mampu menghasilkan sedikitnya 90 butir telur setiap harinya.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa fungsi pemasyarakatan telah bergeser dari sekadar wadah hukuman (penjara) menjadi sarana edukasi dan reintegrasi sosial yang produktif.

Kepala Lapas Kelas IIB Way Kanan, Riski Burhanudi melalui Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka. KPLP) Tri Ghaly Ramaditya menjelaskan program yang diinisiasi oleh pihak Lapas Way Kanan itu dirancang untuk membekali warga binaan dengan keterampilan konkret yang bernilai ekonomis tinggi. Mulai dari manajemen pakan, perawatan kebersihan kandang, hingga penanganan kesehatan unggas, semuanya dilakukan secara mandiri oleh warga binaan di bawah pengawasan ketat petugas Lapas,”Kami tidak hanya ingin mereka mengisi waktu, tetapi benar-benar menyerap ilmu bisnis dan peternakan. Angka 90 butir per hari ini adalah buah dari kedisiplinan dan kerja keras mereka,” ujar Tri Ghaly Ramaditya

Keberhasilan panen harian ini memberikan dampak multi-dimensi bagi internal Lapas maupun masyarakat luas:

  • Penyediaan Gizi Mandiri: Hasil panen telur digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelengkap gizi para warga binaan di dalam Lapas, memastikan mereka mendapatkan asupan makanan yang sehat dan seimbang.
  • Pemberdayaan Ekonomi: Sebagian hasil produksi dialokasikan untuk pasar lokal, yang hasilnya dikonversi menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta premi (upah) bagi warga binaan yang bekerja.
  • Modal Keahlian Pasca-Bebas: Keterampilan ini menjadi modal berharga bagi warga binaan agar siap membuka usaha sendiri atau bekerja di sektor peternakan setelah menyelesaikan masa tahanan.

Keberhasilan program “Satu Hari 90 Butir” ini menjadi salah satu indikator keberhasilan implementasi program Pemasyarakatan Produktif yang dicanangkan oleh Kementerian Hukum dan HAM. Lapas Way Kanan membuktikan bahwa dengan pembinaan yang tepat, keterbatasan ruang gerak mampu diubah menjadi peluang ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Dengan konsistensi yang ditunjukkan, Lapas Way Kanan berkomitmen untuk terus mengembangkan skala budidaya ini, baik dari segi kuantitas unggas maupun variasi program agribisnis lainnya. Sebuah langkah maju yang mengubah stigma, membangun manusia, dan memberi kontribusi nyata bagi ketahanan pangan Daerah. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!