POTENSI DI BALIK LENSA, KETIKA JALUR PERUMAHAN JENGANAN SIKEP MENJADI RUANG PUBLIK “DADAKAN” BAGI GENERASI MUDA

Kotabumi – Deretan pohon peneduh yang berbaris rapi di sepanjang Jalur Dua Perumahan Jenganan Sikep, Kelurahan Kelapa Tujuh, Lampung Utara ini punya cerita. Bukan lagi sekadar aspal penghubung lalu lintas jalan kembar ini bertransformasi menjadi “panggung mini” tempat anak-anak muda lokal berburu foto estetik (aesthetic) sekaligus memeras keringat di sore hari.

Sayangnya, ruang publik dadakan ini tumbuh secara organik tanpa sentuhan fasilitas. Potensi besar yang dibawa generasi Z dan Milenial di kawasan ini seolah masih dibiarkan berjalan sendiri.

Bagi mata awam, jalur dua ini mungkin hanya jalan biasa dengan pembatas di tengahnya. Namun di mata anak muda kreatif, komposisi pepohonan hijau yang membingkai jalan aspal justru memberikan efek visual yang dramatis saat diterpa cahaya keemasan (golden hour) menjelang matahari terbenam.

Setiap sore, kawasan ini ramai dikunjungi. Ada yang datang dengan sepatu lari untuk jogging, namun tidak sedikit pula yang sengaja datang dengan pakaian terbaik mereka demi konten media sosial.

“Tempatnya lumayan bagus kalau sore, apalagi kalau dapat cahaya pas mau maghrib. Pohon-pohonnya dapet banget buat latar belakang foto,” ujar Yeni salah satu remaja yang sering menghabiskan waktu di lokasi tersebut, Minggu 28 Juni 2026

Fenomena ini memicu suatu ironi, anak muda kita butuh ruang, tetapi ruang publik yang ramah masih minim.

Di tengah tingginya minat masyarakat untuk menjadikan lokasi ini sebagai alternatif tempat bersantai di pagi dan sore hari, Jalur Dua Kelapa Tujuh belum memiliki fasilitas penunjang sama sekali. Jangan harap menemukan bangku taman untuk sekadar melepas lelah, jalur pejalan kaki (pedestrian) yang nyaman, atau bahkan tempat sampah yang memadai. Semuanya masih mengandalkan apa adanya.

Kondisi ini sebenarnya menjadi peluang emas sekaligus “PR” bagi Pemerintah Lampung Utara. Jika dikemas dengan baik, area ini bisa disulap menjadi taman kota linier atau ruang terbuka hijau (RTH) yang fungsional.

Fasilitas Pedestrian & Jogging Track: Mengubah pembatas jalan atau trotoar menjadi jalur khusus pejalan kaki yang aman dari kendaraan.

Street Furniture: Penambahan bangku taman yang estetik di bawah rindangnya pepohonan untuk tempat bersantai keluarga.

Pencahayaan yang Estetik: Pemasangan lampu taman yang ramah lingkungan agar kawasan ini tetap hidup dan aman hingga malam hari.

Pemberdayaan UMKM: Penataan area khusus untuk pedagang kaki lima atau coffee truck kecil, sehingga bisa menggerakkan roda ekonomi lokal secara tertib.

Anak muda Kelapa Tujuh telah menunjukkan bahwa mereka mampu menghidupkan suatu kawasan hanya modal kreativitas dan kamera ponsel. Sekarang, bola panas ada di tangan pembuat kebijakan.

Membangun kota yang humanis tidak selalu harus dimulai dari proyek megah bermiliar-miliar. Terkadang, ia hanya butuh kepekaan mendengar kebutuhan warganya, menata apa yang sudah disukai masyarakat, dan mengubah jalur jalan biasa menjadi ruang publik yang berbobot, menyentuh, dan profesional. (Yogi/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!