Podcast Studio2! Senyum di Balik Sunyi Pelosok Desa, Perjalanan Kemanusiaan Disdukcapil Lampung Utara

Perjalanan dinas pada umumnya identik dengan ruang AC yang sejuk, meja kerja yang rapi, serta tumpukan berkas birokrasi. Namun, bayangan tersebut seketika runtuh tatkala menyimak kisah yang dituturkan oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Lampung Utara, Maryadi.

Di balik tugas administratif negara, terselip sebuah misi kemanusiaan yang menyentuh hati. Melalui program “Jemput Bola”, jajaran Disdukcapil Lampung Utara rela menembus jalanan terjal pedesaan, menyusuri pelosok terjauh, hingga mendatangi rumah-rumah warga demi memastikan hak identitas kependudukan dapat dirasakan oleh setiap insan – tanpa terkecuali.

Dalam program podcast eksklusif bersama Host Om Vicko di Studio2 pada Senin, (3/8/2026), Maryadi membuka lembaran-lembaran cerita selama melakukan jemput bola. Suka dan duka berpadu menjadi satu ketika timnya harus berhadapan langsung dengan realitas sosial di lapangan.

Bagi penyandang disabilitas dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) seringkali dianggap sebagai hal yang mustahil. Keterbatasan fisik maupun psikologis membuat mereka sulit, bahkan tidak mungkin, mendatangi kantor pelayanan publik di perkotaan.

” Negara harus hadir untuk mereka yang paling sunyi dan terabaikan. Identitas bukan sekadar selembar kartu, melainkan bentuk pengakuan bahwa mereka ada dan berharga di mata hukum,” ungkap Maryadi dalam obrolan santai di ruang kerjanya.

Tidak hanya menyasar pelosok desa terpencil, dedikasi tim Disdukcapil Lampung Utara juga diuji di ruang-ruang perawatan rumah sakit. Ketika ada warga yang tengah terbaring sakit parah namun belum memiliki identitas resmi, tim jemput bola siap bergerak cepat melakukan perekaman data e-KTP langsung di sisi tempat tidur pasien.

Berbagai tantangan emosional dan teknis kerap mewarnai proses perekaman bagi ODGJ dan penyandang disabilitas berat. Mulai dari pendekatan persuasif yang membutuhkan kesabaran luar biasa, hingga medan perjalanan yang menguji ketahanan fisik. Namun, setiap kali sebuah KTP berhasil diterbitkan, lelah para petugas seketika terbayar lunas oleh senyum warga yang dilayani.

Kisah yang dibagikan Maryadi bukan sekadar laporan kinerja instansi pemerintahan, melainkan sebuah refleksi tentang ketulusan pelayanan publik. Di ujung perbincangan, ia menegaskan bahwa program jemput bola ini bukanlah kegiatan seremonial semata, melainkan sebuah komitmen berkelanjutan.

Disdukcapil Lampung Utara bertekad untuk terus melangkah, merangkul mereka yang marjinal, dan memastikan bahwa negara benar-benar hadir sampai ke titik-titik terjauh membawa secercah harapan melalui selembar identitas resmi. (Diq).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!