Metro- Pemerintah Kota Metro memperkuat strategi pengendalian inflasi daerah melalui penguatan kerja sama antardaerah (KAD) untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok. Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui peninjauan langsung sentra produksi bawang merah di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, oleh Wali Kota Metro bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Metro, Kamis (30/7/2026).
Kunjungan lapangan ini merupakan tindak lanjut atas Penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Kota Metro dan Pemerintah Kabupaten Solok yang difasilitasi oleh Bank Indonesia. Langkah strategis ini diambil guna memastikan keterjaminan pasokan, efisiensi rantai distribusi, serta standar kualitas komoditas pangan di tingkat konsumen Kota Metro.
Kabupaten Solok dipilah sebagai mitra strategis mengingat posisinya sebagai produsen bawang merah terbesar di Pulau Sumatra sekaligus terbesar kedua secara nasional. Dengan luas tanam mencapai belasan ribu hektare dan total produksi berkisar 216.148 ton per tahun, daerah ini memegang peranan krusial sebagai penopang pasokan hortikultura nasional. Sentra produksi utamanya tersebar di Kecamatan Lembah Gumanti, Lembang Jaya, dan Danau Kembar.
Dalam agenda peninjauan tersebut, rombongan TPID Kota Metro mengunjungi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Champion Bawang Merah di Kecamatan Lembah Gumanti guna menginspeksi gudang penyimpanan, tata kelola panen, hingga kesiapan logistik distribusi.
Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, menegaskan bahwa kolaborasi lintas daerah merupakan fondasi penting dalam menekan laju inflasi daerah, khususnya pada kelompok makanan bergejolak (volatile foods).
“Kami melihat langsung sentra produksi dan gudang penyimpanan di Kabupaten Solok. Stok dipastikan aman dan kualitas komoditas sangat baik. Kerja sama ini menjadi langkah konkret untuk memangkas mata rantai distribusi agar harga bawang merah di Kota Metro tetap stabil dan terjangkau,” ujar Bambang.
Bambang menambahkan, efektivitas pengendalian inflasi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan intervensi di tingkat hilir, melainkan harus menyentuh hulu melalui kemitraan langsung dengan daerah produsen.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Metro, Ardah, menjelaskan bahwa skema kerja sama ini menciptakan hubungan perdagangan business-to-business (B2B) yang lebih efisien dengan mempertemukan petani produsen secara langsung dengan pelaku usaha pasokan di Kota Metro.
“Rantai distribusi yang lebih pendek (short supply chain) meminimalkan biaya logistik dan marjin perdagangan, sehingga mampu meredam potensi gejolak harga di tingkat konsumen,” jelas Ardah.
Tak hanya berfokus pada kuantitas dan harga, aspek keamanan pangan (food safety) turut menjadi prioritas. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Metro, Pipi Puspitasari, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengambil sampel produk untuk diuji di laboratorium.
“Pengujian dilakukan untuk memastikan komoditas bebas dari kandungan residu pestisida melebihi ambang batas, sehingga bawang merah yang masuk ke pasaran Kota Metro terjamin aman untuk dikonsumsi,” tegas Pipi.
Dari sisi hulu, Ketua Gapoktan Champion Bawang Merah Kecamatan Lembah Gumanti, Amri Ismail, menyambut positif kerja sama ini karena memberikan kepastian pasar (offtaker) dan harga yang adil bagi para petani lokal.
Dampak instan dari skema KAD ini langsung terealisasi melalui transaksi perdagangan perdana. Deni Sanjaya, salah satu pedagang komoditas asal Kota Metro yang turut serta dalam kunjungan tersebut, mengonfirmasi pemesanan perdana sebanyak satu ton bawang merah setelah berdiskusi langsung terkait spesifikasi mutu dan mekanisme pengiriman.
Pemerintah Kota Metro optimistis sinergi berkelanjutan bersama Pemerintah Kabupaten Solok dan Bank Indonesia ini tidak hanya mampu menjaga laju inflasi daerah tetap terkendali, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah secara jangka panjang. (Red)













