SOLO, Studio2News — Berawal dari modal patungan yang sangat terbatas, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Solo, menjelma menjadi kisah sukses pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang menginspirasi.
Hanya dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2026, koperasi ini berhasil membukukan omzet fantastis hingga mencapai sekitar Rp 300 juta.
Padahal, fondasi awal pendirian koperasi ini terbilang sangat mini. Berdiri sejak Agustus 2025, modal pertama KKMP Banjarsari murni berasal dari simpanan pokok 32 anggota pendiri dengan besaran hanya Rp 100.000 per orang, atau jika ditotal modal awalnya hanya berkisar Rp 3,2 juta.
Ketua KKMP Banjarsari, Budi Agung Setyowicoyo, mengungkapkan bahwa pencapaian luar biasa ini merupakan buah dari kedisiplinan menerapkan strategi bisnis yang taktis sejak hari pertama, mulai dari perputaran modal cepat, pengaturan jam operasional, skema harga berjenjang, hingga digitalisasi layanan.
“Ya, kami berangkat dari situ dan menyiasatinya uang yang sedikit ini diputar cepat supaya produknya bisa beragam,” ujar Budi saat ditemui Kompas.com di KKMP Banjarsari, dilansir Kompas.com. Senin (3/8/2026).
Pada awal berdirinya, tantangan terbesar yang dihadapi KKMP Banjarsari adalah kekhawatiran dari para pemilik warung kelontong sekitar yang takut usahanya tersaingi. Untuk meredam isu tersebut, koperasi menerapkan tiga tingkat harga (three-tier pricing) yang adil bagi semua kalangan yakni:
- Masyarakat umum di luar anggota.
- Anggota koperasi, yang mendapatkan harga khusus lebih murah.
- Toko atau warung kelontong, yang diposisikan sebagai mitra grosir.
Skema cerdas ini berhasil mengubah potensi konflik menjadi kolaborasi. Warung-warung kelontong di sekitar kini tidak lagi merasa tersaingi, melainkan justru bergabung untuk berbelanja kembali (kulakan) di koperasi tersebut.
“Isu yang berkembang itu akhirnya berhenti dan beberapa warung kelontong sekarang sudah bergabung dengan Koperasi Merah Putih, sehingga kami tidak hanya melayani masyarakat dan anggota, tapi juga melayani warung kelontong untuk kulakan di sini dan dijual kembali,” jelas Budi.
Dari segi operasional, pada tahap awal koperasi ini sempat membatasi layanan hanya dua jam per hari, yakni pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, mengingat keterbatasan sumber daya manusia serta skala omzet yang masih merangkak. Kendati demikian, sepanjang Januari hingga Juni 2026, rata-rata omzet harian stabil di angka Rp 2 juta dengan rekor tertinggi menembus Rp 3,5 juta per hari.
“Jadi, kan akhir tahun kemarin kita sudah close book lewat RAT [Rapat Anggota Tahunan], kita mulai lagi di Januari sampai dengan Juni itu di angka Rp 300 jutaan omzetnya,” ungkap Budi.
Mulai Agustus 2026 ini, seiring dengan meningkatnya kepercayaan publik dan kebutuhan anggota, jam layanan resmi ditambah menjadi dua sesi, yaitu pukul 09.00-11.00 WIB dan 16.00-18.00 WIB, guna mengakomodasi warga yang bekerja pada pagi hingga siang hari.
Kunci lain di balik pesatnya pertumbuhan KKMP Banjarsari adalah komitmen terhadap transparansi. Koperasi ini mengelola seluruh transaksi keuangan secara profesional menggunakan aplikasi digital MyKopKel.
Pengelolaan yang beralih dari manual ke sistem digital terbukti mendongkrak kepercayaan masyarakat. Hal ini tercermin dari lonjakan jumlah anggota yang melejit dari hanya 32 orang saat pendirian, kini menjadi sekitar 130 anggota aktif hingga Juni 2026.
Untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan barang, KKMP Banjarsari menjalin kerja sama dengan Perum Bulog dan ID Food untuk pasokan barang subsidi seperti beras dan minyak goreng. Guna mengatasi kendala distribusi yang tidak selalu rutin, pengurus proaktif menjemput bola dengan mengambil langsung barang dari agen terdekat. Selain itu, koperasi berupaya memangkas rantai pasok dengan berkomunikasi langsung kepada distributor dan produsen demi menekan harga jual tanpa mengorbankan margin keuntungan operasional.
Sebagai pusat kebutuhan harian masyarakat, KKMP Banjarsari menyediakan berbagai komoditas pokok penting seperti beras, minyak goreng, LPG 3 kg, gula, mi instan, sabun cuci, hingga barang-barang kebutuhan eceran sistem rencengan.
Kehadiran koperasi ini dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat lewat harga jual yang jauh lebih miring dibanding pasaran umum. Sebagai contoh, LPG 3 kg dijual seharga Rp 18.000 (jauh di bawah harga pasaran bebas yang mencapai Rp 22.000), sementara Minyakita dipatok sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yaitu Rp 15.700, padahal harga di pasaran luar bisa menyentuh Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per liter. (Red).













