Bandar Lampung- Dalam lembaran sejarah perjuangan Republik Indonesia, terdapat sosok pahlawan tangguh yang jejak dan pengorbanannya senantiasa hidup di hati masyarakat Lampung. Beliau adalah Gele Harun Nasution, seorang advokat, hakim, sekaligus politikus berpengaruh yang rela menanggalkan kemewahan kariernya demi mengangkat senjata dan mempertaruhkan segalanya untuk kedaulatan bangsa.

Awal Langkah Sang Intelektual
Lahir di Sibolga pada 6 Desember 1910, Gele Harun tumbuh dalam keluarga terpandang. Ayahnya, dr. Harun Al-Rasyid Nasution, telah lama menetap dan mengabdi di Tanjungkarang Timur. Memiliki trah intelektual, Gele Harun bertolak ke Belanda untuk menimba ilmu hukum di Rechtshoogeschool (Sekolah Hakim Tinggi) di Leiden.
Pada akhir tahun 1938, ia pulang ke tanah air menyandang gelar Meester in de Rechten (Mr.). Dibanding menikmati zona nyaman dengan membuka kantor advokat pertama di Lampung, panggilan jiwa Nasionalismenya justru memanggilnya ke medan perjuangan.

Garis Depan dan Keteguhan Hati
Pasca-proklamasi kemerdekaan 1945, Gele Harun memimpin Angkatan Pemuda Indonesia (API). Karier hukumnya terus berlanjut hingga diangkat menjadi hakim Mahkamah Militer Palembang berpangkat Letnan Kolonel (tituler). Namun, ketika ultimatum Gubernur Jenderal Van Mook memaksa pasukan Indonesia mundur dari Palembang, Gele Harun menolak tunduk. Ia kembali ke Lampung dan terjun langsung mengangkat senjata melawan Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948.
Puncak ujian kepemimpinannya terjadi pada 5 Januari 1949 saat ia diangkat menjadi acting Residen Lampung (Kepala Pemerintahan Darurat). Dalam tekanan gempuran tentara Belanda yang terus memburu, Gele Harun harus memindahkan pusat Pemerintahan darurat bergerilya dari satu titik ke titik lain:
- Dari Pringsewu bergeser ke Talangpadang,
- Menembus ke belantara Bukit Barisan di Desa Pulau Panggung,
- Hingga akhirnya bertahan di Desa Sukaraja, Way Tenong, Lampung Barat.
Duka yang Menembus Jiwa di Way Tenong
Selama enam bulan bergerilya di Way Tenong, Gele Harun mengendalikan roda Pemerintahan darurat dari rumah Pesirah Sedamit dengan dukungan penuh masyarakat setempat. Namun, perjuangan ini harus dibayar dengan harga yang sangat mahal dan menyayat hati.
Belanda menggempur wilayah tersebut secara bertubi-tubi. Bom jatuh mengepung desa-desa sekitar, memutus akses dan pasokan obat-obatan. Di tengah kecamuk perang dan keterbatasan yang luar biasa, putri tercintanya yang masih bayi, Herlinawati (8 bulan), jatuh sakit dan gugur sebagai bunga Bangsa akibat ketiadaan obat-obatan.
“Di bawah langit Way Tenong yang pekat oleh asap mesiu, seorang Ayah harus melepaskan putri kecilnya ke liang lahat. Tanpa air mata yang sempat meratap panjang, perjuangan menegakkan panji republik harus terus berlanjut.”
Jasad Herlinawati dimakamkan di TPU Desa Sukaraja, menjadi saksi bisu betapa besarnya pengorbanan darah dan air mata keluarga Gele Harun bagi bumi Pertiwi.
Warisan Pengabdian Tanpa Henti
Setelah gencatan senjata dan penyerahan kedaulatan pada akhir tahun 1949, Gele Harun kembali ke Tanjungkarang. Ia kemudian menjabat sebagai Residen Lampung definitif (1950–1955) dan menjadi salah satu tokoh kunci di balik pembentukan Lampung sebagai Provinsi berdiri sendiri.
Kiprahnya terus meluas ke kancah Nasional sebagai anggota Dewan Konstituante dan DPR-GR fraksi PNI. Hingga akhir hayatnya pada 4 April 1973, Gele Harun memilih kembali ke profesi awalnya sebagai pengacara membela masyarakat dan keadilan.

Jejak Karier Sang Pahlawan
- 1938–1942: Advocaat en Procureur di Lampung
- 1942–1945: Ketua Pengadilan Negeri Tanjungkarang
- 1945–1948: Ketua Pengadilan Negeri merangkap Ketua Mahkamah Militer Sumatera Selatan
- 1949–1950: Kepala Pemerintahan Darurat merangkap Pemimpin Gerilya Lampung
- 1950–1955: Residen Lampung
- 1956–1957: Anggota Konstituante
- 1957–1966: Anggota DPR-GR/MPRS
- 1968–1973: Pengacara
Gele Harun kini bersemayam di TPU Kebonjahe, Enggal, Bandar Lampung. Nama dan jasa besarnya terpatri emas sebagai Pahlawan Nasional dari Lampung suatu warisan keteladanan tentang keberanian, pengorbanan tanpa batas, dan cinta tanah air yang tak pernah padam. (Wikipedia / Red)













