Jakarta-Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian memberikan catatan kritis dan instruksi khusus kepada seluruh Kepala Daerah serta pemangku kepentingan (stakeholders) terkait sorotan utama tertuju pada pergerakan harga komoditas strategis di Daerah seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng.
Dari lini komoditas tersebut, Mendagri meminta perhatian ekstra diarahkan pada komoditas minyak goreng. Sebagai salah satu barang kebutuhan pokok (bapok) masyarakat dengan tingkat konsumsi yang tinggi, pergeseran harganya diproyeksikan dapat berdampak langsung pada daya beli.
“Minyak goreng perlu kita waspadai bersama karena menyangkut kebutuhan mendasar masyarakat. Berdasarkan pemetaan terkini, terdapat 165 Kabupaten/kota yang mencatatkan kenaikan harga minyak goreng, sementara 73 wilayah lainnya berhasil mengalami penurunan,” ujar Tito Karnavian saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin (15/6).
Pemerintah pusat mendorong Pemerintah Daerah untuk mengoptimalkan instrumen intervensi pasar, menjaga kelancaran rantai pasok lokal, serta memperkuat sinergi antar Daerah demi memitigasi risiko lonjakan harga di sisa kuartal kedua tahun ini.
Selain itu Mendagri, Muhammad Tito Karnavian memberikan apresiasi atas capaian inflasi nasional pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini dinilai masih berada dalam koridor yang aman karena memenuhi target koridor fiskal pemerintah, yaitu di rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Juni 2026, laju inflasi bulan lalu utamanya dipicu oleh pergerakan harga di sejumlah sektor. Komponen penentu tersebut meliputi kelompok makanan, minuman, dan tembakau; sektor transportasi; serta sektor informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
“Khusus untuk komponen makanan, minuman, dan tembakau, komoditas yang memberikan andil kenaikan tertinggi adalah cabai sebesar 0,08 persen, yang kemudian diikuti oleh minyak goreng,” terang Tito Karnavian
Meski beberapa komoditas mengalami fluktuasi, Mendagri mensyukuri bahwa komoditas pangan utama tidak menjadi pemicu lonjakan inflasi kali ini. Berkaca pada tren historis, komoditas seperti beras dan bahan pokok esensial lainnya kerap kali menjadi faktor dominan (driver) dari pembentukan inflasi Nasional.
Secara khusus, Mendagri memberikan apresiasi terhadap kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) dan Perum Bulog yang dinilai berhasil menjaga ketahanan pasokan beras di pasar. Efektivitas distribusi dan kecukupan stok ini terbukti mampu menjaga stabilitas harga beras secara Nasional. (Red)













