JAKARTA, Studio2News — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Melemahnya mata uang Garuda ini terjadi seiring melonjaknya harga minyak dunia akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada pembukaan pasar, rupiah merosot 14 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp18.074 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp18.060 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah global menjadi salah satu beban utama bagi pergerakan rupiah.
“Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu serta Bandara Dammam,” ungkap Josua.
Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), harga minyak mentah melambung lebih dari 2 persen. Lonjakan ini dipicu oleh serangan pesawat nirawak (drone) yang menewaskan dua orang di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco, sehingga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
- Minyak Brent: Naik 2,4 persen menjadi US$111,40 per barel.
- Minyak WTI: Naik 2,22 persen menjadi US$99,30 per barel.
Juru Bicara Militer Ansarullah, Yahya Sarea, mengklaim pihaknya telah meluncurkan empat serangan rudal dan drone dalam kurun waktu 48 jam. Target serangan meliputi Kementerian Pertahanan di Riyadh, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, fasilitas Aramco di Yanbu, hingga Bandara Internasional Abha. Serangan ini dilaporkan memicu kebakaran di fasilitas minyak serta mengganggu penerbangan.
Menanggapi krisis keamanan regional yang meningkat, pemerintah AS telah memerintahkan penarikan sebagian personel dan keluarga diplomatik dari misi diplomatik mereka di Arab Saudi.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak (net oil importer), ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga energi ini berpotensi membengkakkan beban impor nasional serta menekan arus modal.
Selain menekan pasar valuta asing, sentimen global ini membuat pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia cenderung bervariasi pada Kamis (22/10/2026):
- Tenor 5 Tahun: Naik 41 basis poin (bps) ke level 7,25%.
- Tenor 10 Tahun: Turun 1 bps ke level 7,42%.
- Tenor 15 Tahun: Turun 4 bps ke level 7,38%.
- Tenor 20 Tahun: Naik 1 bps ke level 7,41%.
Di samping itu, volume perdagangan obligasi pemerintah mengalami penurunan menjadi Rp18,28 triliun dari sebelumnya Rp24,39 triliun. Kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) juga mencatatkan aksi lepas aset (outflow) sebesar Rp3,66 triliun, sehingga tersisa Rp914 triliun (13,02% dari total obligasi beredar) per Rabu (21/10/2026). (Red)













