LAMPUNG TENGAH, Studio2News – Kabar gembira menyelimuti para petani singkong di Kabupaten Lampung Tengah. Harga komoditas ubi kayu dilaporkan melonjak hingga menyentuh angka Rp2.400 per kilogram. Kenaikan harga ini menjadi angin segar bagi petani setelah sekian lama dihantui ketidakpastian harga pasar.
Hingga Rabu (17/6/2026), tren positif ini dirasakan langsung oleh petani sebagai upaya pemulihan ekonomi di tingkat desa. Kondisi ini dinilai cukup memberikan ruang napas bagi petani untuk menutupi biaya produksi yang cenderung terus meningkat.
Namun, di balik kegembiraan tersebut, realitas di lapangan menunjukkan bahwa harga belum sepenuhnya seragam. Masih terdapat disparitas harga antar-perusahaan penerima hasil panen. Secara akumulatif, rata-rata harga di tingkat kabupaten saat ini berada di kisaran Rp2.050 per kilogram dengan potongan kadar (refraksi) sekitar 8 persen. Perbedaan skema harga dan kebijakan potongan di tiap pabrik menyebabkan pendapatan petani bervariasi, tergantung pada kemitraan dan akses penjualan yang mereka miliki.
Ketua Umum Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Lampung Tengah, Dasrul Aswin, menanggapi positif dinamika harga saat ini. Ia mengungkapkan rasa syukur atas membaiknya nilai jual komoditas andalan warga tersebut.
“Alhamdulillah, saat ini petani singkong sedang semringah. Meskipun setiap perusahaan menerapkan skema harga yang berbeda-beda, namun dengan harga rata-rata yang ada, petani merasa sangat bersyukur,” ujar Dasrul saat dikonfirmasi, Rabu (17/6/2026).
Meski harga jual di tingkat pabrik mengalami kenaikan, Dasrul mengingatkan bahwa petani masih harus menanggung beban biaya produksi yang tidak sedikit. Komponen biaya utama meliputi ongkos transportasi distribusi dan upah tenaga kerja (buruh cabut).
Terkait kenaikan harga BBM nonsubsidi dan kendala antrean solar, Dasrul menyebut dampaknya kini tidak lagi signifikan terhadap distribusi hasil panen. Hal ini disebabkan karena penyesuaian biaya angkut telah dilakukan lebih awal oleh para penyedia jasa transportasi.
“Ongkos angkut mobil sudah naik sejak lama. Dulu di kisaran Rp80–90 per kilogram, sekarang sudah menjadi sekitar Rp100 per kilogram. Sebagai ilustrasi, jika petani panen sebanyak 8 ton, maka biaya angkut yang dikeluarkan tinggal dikalikan Rp100 per kilogramnya,” jelas Dasrul.
Selain biaya angkut, beban produksi lainnya adalah upah buruh cabut yang saat ini mencapai Rp100.000 per ton. Dalam praktiknya, biaya ini didistribusikan sesuai dengan pembagian kerja di lapangan. Dasrul menambahkan, terdapat pula biaya tambahan jika akses lahan panen sulit dijangkau oleh kendaraan, yang mengharuskan penggunaan jasa panggul manual oleh tenaga kerja tambahan.
Dengan kondisi harga saat ini, petani berharap stabilitas pasar dapat terus terjaga sehingga kesejahteraan para penanam ubi kayu di Lampung Tengah dapat terus meningkat secara berkelanjutan. (Red).













