Studio2News – Ada ketukan yang tak kasat mata saat kita membicarakan ruang kelas hari ini, deru meja-kursi, derap langkah anak-anak, dan di sudut paling dalam, sunyi yang sering luput dari perhatian, ruang batin seorang anak didik. Di tengah pusaran modernitas yang kian bising, pendidikan kerap direduksi sekadar menjadi pabrik pencetak angka-angka rapor. Ia diukur dari deretan nilai ujian, bukan dari seberapa basah mata seorang anak ketika memahami arti empati.
Di sinilah gelombang itu mulai digerakkan. Dari meja kerjanya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, S.STP., M.H., membaca ulang arah angin dunia pendidikan tanah leluhurnya.
Langkah kaki birokrat berdarah Lampung Utara ini tidak lahir dari ruang hampa. Lahir di Desa Candimas, Abung Selatan, Lampung Utara, Thomas adalah potret nyata seorang putra daerah yang pulang untuk merawat rumahnya sendiri. Rekam jejak pengabdiannya membentang dari Bandar Lampung, Lampung Selatan, hingga kembali ke jantung provinsi pada awal 2025 ketika mandat itu resmi diletakkan di pundaknya oleh sang gubernur.
Bagi Thomas, jabatan bukanlah takhta, melainkan sebuah pertanyaan fundamental yang menuntut jawaban, mau atau tidak, berinovasi atau tertinggal?
Di ruang domestiknya, Thomas adalah ayah dari empat anak, sebuah peran yang ia jalani dengan prinsip yang barangkali terdengar kontras di era pendisiplinan yang kaku, ia tidak pernah memarahi anak-anaknya. Filosofi personal ini merembes ke dalam kebijakan pendidikannya. Ia meyakini bahwa pendidikan humanis harus dimulai dari rumah, dari kelembutan relasi yang memanusiakan manusia. Dari sinilah ia merumuskan tiga pilar utama pembentukan karakter, murid harus memiliki moral, empati, dan mutu yang mumpuni.
“Melatih otak sangat penting, tetapi melatih adab jauh lebih utama,” ujar Thomas saat mengisi program Podcast Studio2 di ruang kerjanya.
Baginya, angka-angka maksimal dalam lembar jawaban ujian tidak punya makna apa-apa jika proses pencapaiannya mereduksi daya juang dan merusak kepekaan sosial anak didik. Mengurai Benang Kusut Mutu dan Infrastruktur Gubernur memberikan atensi agar dunia pendidikan Lampung berlari kencang. Tantangan ini tidak dijawab Thomas dengan retorika, melainkan pemetaan struktural yang jujur.
Ia sadar, perbaikan tidak cukup hanya dengan membenahi output dan input semata. Daya juang, proses belajar, hingga infrastruktur sekolah harus disentuh secara bersamaan. Sekolah-sekolah unggul didorong untuk terus berpacu menjadi lokomotif kemajuan. Namun, jantung dari segala perbaikan itu tetaplah berada di tangan pendidik. Di tengah gelombang disrupsi teknologi, sebuah data jujur ia ungkapkan: hanya sekitar 20 persen guru yang memiliki jiwa pengajar profesional.
Thomas tidak sedang menghakimi, melainkan memanggil para guru untuk bertumbuh. Melalui pencerahan dan observasi mendalam, ia mengingatkan kembali esensi dasar pedagogi, bahwa guru yang baik bukan sekadar mengajar, melainkan mengajak. Guru harus menjelma sebagai sumber inspirasi sekaligus mercusuar humanisme, bukan sekadar penyampai kurikulum yang kering.
Ketika dunia mendewakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Thomas bersikap jernih. AI adalah alat bantu kerja yang memudahkan arus informasi, tetapi ia tidak boleh diandalkan secara mutlak.
“Sebab, kalau kita sepenuhnya mengandalkan AI, empati itu tidak ada,” tegasnya.
Di sinilah peran guru menjadi tak tergantikan. Di tengah gempuran layar gawai yang mengaburkan batas usia, kebijakan pembatasan penggunaan gawai mulai didorong, diimbangi dengan kewajiban membaca untuk merawat daya nalar kritis siswa.
Negara tidak boleh membiarkan satu pun anak bangsa tertinggal di jalanan sunyi putus sekolah. Untuk menjawab persoalan ini, Dinas Pendidikan Provinsi Lampung menghadirkan terobosan nyata melalui Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Program yang kini telah merambah di beberapa kabupaten dan merangkul 304 murid ini dirancang adaptif.
Tidak berhenti di situ, program ini memiliki keunikan strategis, fokus pada penguasaan bahasa Jepang yang dirancang khusus bagi siswa yang berorientasi menembus dunia kerja internasional. Melalui program kelas cangkok, para siswa diikutsertakan ke sekolah-sekolah unggul untuk penyesuaian mutu. Dalam waktu dekat, program double teaching juga akan digulirkan agar para siswa terlatih menyerap ilmu baru secara komprehensif.
Pandangan jauh ke depan juga disiapkan untuk menjawab asa masyarakat bawah. Menyongsong tahun depan, atas atensi khusus gubernur, program Satu Desa Satu Sarjana dipersiapkan matang. Pemerintah akan menanggung penuh biaya pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang benar-benar memiliki tekad kuat, diverifikasi secara objektif melalui data desil yang akurat.
Langkah-langkah ini bukan sekadar deretan program di atas kertas. Ini adalah ikhtiar senyap seorang anak desa dari Candimas untuk memastikan bahwa anak-anak Lampung tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga kaya secara nurani, berdiri tegak menatap masa depan tanpa kehilangan akar kemanusiaannya. (Diq)













