Ketika Drone, Serai, dan Hujan Buatan Bersatu Selamatkan Bayi Gajah di Sekam Way Kambas

Lampung Timur- Di balik padamnya kobaran api yang sempat mengancam 120.000 hektare kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), tersimpan satu cerita yang belum banyak terungkap ke publik: strategi mitigasi “senyap” berteknologi tinggi dan taktik berbasis naluri alam untuk menyelamatkan populasi gajah Sumatera.

Peninjauan langsung Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi pada Senin (31/8/2026) mengungkapkan bahwa pertempuran melawan karhutla kini telah bergeser ke bawah permukaan tanah.

Meski tak ada lagi asap membumbung, ancaman terbesar justru berada di bawah permukaan tanah. Kepolisian dan TNI kini menerjunkan armada drone pemindai suhu untuk melacak bara api yang bersembunyi di dalam sekam atau material gambut tebal. Jika titik panas terdeteksi oleh drone, komando pusat di Bandara Radin Inten II langsung mengerahkan helikopter water bombing untuk mengguyurnya sebelum berubah menjadi kobaran besar.

Langkah paling unik dalam penanganan konflik satwa dan warga kali ini tidak hanya mengandalkan pagar besi modern yang pengerjaannya sudah mencapai 65%. Petugas menerapkan benteng ekologis memanfaatkan kelemahan biologis gajah. Budi daya tanaman serai wangi dan penangkaran lebah madu masif dibangun di sepanjang perbatasan TNWK. Aroma menyengat dari serai serta kepakan ribuan lebah terbukti menjadi “pembatas alami” yang ditakuti gajah, sekaligus menjadi ladang ekonomi baru bagi warga sekitar.

Keberhasilan penanganan awal. Namun, untuk jangka panjang, Pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman. Tim gabungan bersiap mengirimkan para petugas ke Thailand untuk mempelajari manajemen perawatan gajah bertaraf Internasional, mencakup teknik penanganan trauma satwa pascabencana hingga tata kelola wisata konservasi modern.

“Alhamdulillah gajah-gajah kita sehat, makan, dan bermain. Anak-anak gajah yang kecil juga sangat bersemangat,” ungkap Gubernur Mirza saat melintasi jalur kawasan menggunakan jeep.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus digencarkan secara berkala dari udara untuk menjaga tingkat kelembapan tanah Way Kambas. Lewat integrasi teknologi pemantau udara, benteng ekologis, dan mitigasi darat, TNWK kini tidak hanya dipulihkan dari karhutla, tetapi sedang bertransformasi menjadi benteng pertahanan satwa terkuat di Indonesia. (Sandi Putra/ Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!