Bung Hatta Tidak Ingin Dipisahkan Dari Rakyatnya, Bahkan Dalam Kematian Sekalipun

Studio2- Di balik jendela Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang redup, napas panjang terakhir berembus pada pukul 18.56 Wib. Mohammad Hatta pria yang dahulu menyuarakan Indonesia Merdeka dari dinginnya penjara Rotterdam hingga belantara pengasingan Boven Digul kini beristirahat dalam keabadian. Setelah sebelas hari berjuang melawan sakit, Sang Bapak Koperasi dan Wakil Presiden Pertama RI itu berpulang di usia 77 tahun, meninggalkan duka mendalam yang menyelimuti seluruh penjuru Nusantara.

Kepergian Bung Hatta bukan sekadar kehilangan seorang tokoh sejarah, melainkan pudarnya salah satu pilar moral Bangsa. Sosok bernama kecil Muhammad Athar yang lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 ini telah menempuh garis takdir yang teramat panjang dan berliku.

Kisah hidup Hatta adalah jalinan keteguhan dan kesunyian. Lahir dari perpaduan darah ulama dan saudagar, ia kehilangan Ayahnya sejak berusia tujuh bulan. Tekun menimba ilmu agama dari para ulama besar Minangkabau hingga pendidikan formal ELS dan MULO, langkah mudanya sempat diwarnai perdebatan keluarga saat sang kakek hendak membawanya belajar ke Al-Azhar, Kairo. Penolakan keluarga kala itu justru membukakan jalan bagi Athar muda menuju panggung pergerakan Nasional di Eropa.

Di Belanda, Hatta menjadikan pergerakannya sebagai medan tempur diplomasi. Pidato pembelaannya yang legendaris, Indonesië Vrij (Indonesia Merdeka) pada 1928, menjadi bukti tajamnya pemikiran Hatta di balik sel tahanan kolonial. Tak berhenti di sana, pengasingannya ke Boven Digul dan Banda Neira pada 1934 mendewasakannya sebagai pemikir yang tak pernah bisa dibeli. Ia menolak bekerja sama dengan penjajah demi upah tambahan, dan memilih mengajar anak-anak lokal serta menulis kritik tajam menentang fasisme.

Puncak perjuangan itu terukir manis pada 17 Agustus 1945, ketika ia melangkah mantap mendampingi Bung Karno membacakan Teks Proklamasi, mengikatkan namanya secara abadi sebagai pasangan Dwi-Tunggal.

Sejak pagi hari usai wafatnya, kediaman Bung Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta, dipadati pelayat dari berbagai kalangan dari rakyat biasa yang mengenakan pakaian lusuh hingga para pejabat tinggi Negara. Tangis haru pecah saat jenazah sang Negarawan diberangkatkan menuju peraduan terakhirnya.

Sesuai surat wasiat dan prinsip hidupnya yang teramat bersahaja, Bung Hatta menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia memilih untuk bersatu kembali dengan tanah rakyat yang dicintainya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta. Dalam upacara Kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Adam Malik, ribuan pasang mata menyaksikan tanah merah perlahan menutupi peti sang Proklamator.

“Bung Hatta tidak ingin dipisahkan dari rakyatnya, bahkan dalam kematian sekalipun.”

Meski jasadnya telah menyatu dengan bumi, integritas dan keteladanan Bung Hatta tidak pernah padam:

  • Pahlawan Nasional: Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Proklamator pada 23 Oktober 1986, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 November 2012.
  • Simbol Anti-Korupsi: Nilai kejujurannya yang legendaris mengilhami berdirinya Perkumpulan BHACA pada 2003 oleh Teten Masduki dan T.P. Rachmat, yang melahirkan Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) bagi figur berintegritas seperti Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, hingga Tri Rismaharini.
  • Penghormatan Dunia: Namanya tidak hanya diabadikan pada Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, tetapi juga diabadikan sebagai nama jalan di Haarlem, Belanda.

Bangsa Indonesia hari ini meratapi kepulangan seorang jenius yang sepi dari pamrih. Bung Hatta telah menuntaskan janji hidupnya: menjaga Indonesia dengan nurani, kesederhanaan, dan kejujuran yang tak tergoyahkan. (Wikipedia/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!