Jejak Digital di Balik Kabel Semrawut, Komdigi Akui Internet Indonesia Masih Buang Energi

JAKARTA, studio2news – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat capaian signifikan dalam pemerataan konektivitas di tanah air. Saat ini, sebanyak 81 persen wilayah Indonesia telah terjangkau oleh akses internet cepat (broadband), sementara layanan operator seluler diklaim telah mencakup hampir 100 persen wilayah nusantara.

Namun, di balik angka-angka optimistis tersebut, tersimpan potret buram kualitas infrastruktur yang dinilai tidak efisien.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, secara blak-blakan menyebut bahwa industri telekomunikasi saat ini sedang mengalami masalah ukuran tingkat ketidakteraturan atau keacakan dalam suatu sistem (entropi).

“Kalau dalam istilah fisika, hukum termodinamika itu ada entropi. Entropi itu adalah investasi atau energi yang kita keluarkan tetapi tidak terkonversi sebagaimana mestinya, dia menjadi waste (pemborosan),” ungkap Edwin, Selasa (23/6/2026).

Edwin menyoroti fenomena kabel telekomunikasi yang semrawut, saling bertumpuk, dan tidak tertata rapi di berbagai sudut kota sebagai bukti nyata adanya entropi dalam industri ini. Menurutnya, pemandangan kabel yang berantakan tersebut bukan sekadar masalah estetika, melainkan indikasi struktur pasar yang tidak sehat.

“(Kabel tumpang tindih) itu adalah entropi. Market structure yang tidak ideal, itu adalah entropi. Ini adalah tantangan nyata yang harus kita selesaikan,” tegasnya.

Melihat kondisi tersebut, Komdigi mendesak seluruh pelaku industri telekomunikasi untuk tidak lagi hanya mengejar perluasan cakupan, tetapi mulai fokus pada peningkatan kualitas dan nilai tambah bagi masyarakat.

Komdigi menekankan pentingnya kolaborasi antar-pemangku kepentingan untuk membenahi infrastruktur digital agar tidak lagi terbuang percuma. Fokus utama ke depan adalah menciptakan ekosistem konektivitas yang efisien, tertata, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas.

“Bagaimana kita bisa menciptakan nilai tambah bersama-sama? Bagaimana industri connectivity ini bisa memberikan nilai lebih kepada masyarakat Indonesia sehingga kita bisa mencapai industri yang sustainable (berkelanjutan)?” pungkas Edwin. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!