Jangan Beri Telur Mentah atau Setengah Matang untuk Bayi, Ini Alasan Dokter

Studio2news- Telur adalah salah satu bahan pangan padat gizi yang sangat diandalkan untuk mendukung masa pertumbuhan emas anak. Namun, bagi para orang tua yang sedang mempersiapkan Makanan Pendamping ASI (MPASI), cara pengolahan dan waktu pemberiannya tidak boleh dilakukan sembarangan demi keamanan dan kesehatan pencernaan buah hati.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menegaskan bahwa orang tua dilarang memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak.

  • Risiko Bakteri Salmonella: Telur yang tidak dimasak sempurna berisiko tinggi terkontaminasi bakteri Salmonella, yang dapat memicu infeksi saluran pencernaan atau dikenal dengan salmonelosis.
  • Gejala Infeksi: Infeksi ini dapat menimbulkan keluhan serius seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga risiko dehidrasi berat. Pada bayi, kondisi ini tentu lebih berbahaya dan berpotensi memicu komplikasi serius.
  • Mitos Keuntungan Gizi: Secara medis, telur mentah sama sekali tidak memberikan keuntungan gizi yang sebanding dengan risiko kesehatannya.

Solusi Terbaik, selalu masak telur hingga benar-benar matang. Proses pematangan yang sempurna tidak hanya membasmi kuman dan patogen, tetapi juga membuat protein telur lebih aman, higienis, serta lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan anak.

Selain teknik pengolahan makanan, orang tua juga wajib memahami panduan waktu dan tanda kesiapan bayi dalam menerima MPASI sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

  1. ASI Eksklusif 6 Bulan: WHO dan IDAI merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Setelah usia tersebut, nutrisi dari ASI perlu dilengkapi dengan MPASI karena kebutuhan energi bayi mulai meningkat.
  2. Batasan Usia Dini (< 4 Bulan): Pemberian MPASI tidak dianjurkan sebelum bayi berusia 4 bulan. Jika diberikan di rentang usia 4 hingga 6 bulan, hal tersebut bukanlah rekomendasi rutin, melainkan keputusan individual berdasarkan indikasi medis khusus.
  3. Penilaian Dokter: Keputusan memulai MPASI di kondisi khusus harus melalui evaluasi menyeluruh oleh dokter anak, dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta kemampuan motorik oral bayi.

Jangan hanya berpatokan pada usia kalender. Orang tua perlu mengamati tanda-tanda kesiapan fisik bayi secara komprehensif, yang meliputi:

  • Stabilitas Postur: Bayi mampu mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil serta dapat duduk dengan bantuan.
  • Koordinasi Mulut: Bayi menunjukkan kemampuan mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima, memproses, dan menelan makanan dengan baik.

Pastikan penilaian kesiapan bayi dilakukan secara menyeluruh dari berbagai aspek, bukan hanya menilai dari satu tanda saja. Dengan pengolahan makanan yang higienis dan waktu pemberian yang tepat, orang tua dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak sekaligus melindungi sistem pencernaannya dari risiko infeksi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!