Jejak Cahaya di Bumi Lampung Utara, Perjalanan Religi Menelusuri Dakwah Sayyid Al Habib Abubakar bin Hussen Al-Atas

Lampung Utara- Bumi Indonesia, khususnya Pulau Sumatera, menyimpan jutaan mutiara sejarah dan rohani yang diwariskan oleh para wali serta ulama penyebar Islam. Di Kabupaten Lampung Utara, tepatnya di Desa Kalibalangan yang pada masa lampau dikenal dengan nama Desa Tegal Kitiran, Kecamatan Abung Selatan terdapat jejak langkah dakwah yang hingga kini masih memancarkan cahaya spiritual. Jejak tersebut diukir oleh seorang ulama karismatik bernama Sayyid Al Habib Abubakar bin Hussen Al-Atas.

Lahir dari rahim garis keturunan mulia, Sayyid Al Habib Abubakar merupakan putra dari Sayyid Husein Al-Atas, seorang tokoh yang bersemayam di Betawi (Jakarta). Sebelum mendaratkan kakinya di bumi Lampung untuk mengemban misi suci, beliau sempat menghabiskan waktunya menimba ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT di Tanah Suci Makkah.

Perjalanan takdir kemudian membawa beliau tiba di wilayah Tegal Kitiran (kini Kalibalangan) sekitar tahun 1930. Pada masa itu, suasana geografis dan sosial masih amat belantara serta minim sentuhan ajaran Islam yang kaffah. Dengan keteguhan iman dan keluhuran akhlak, beliau memulai langkah beratnya. Beliau tercatat sebagai pelopor penyiaran agama Islam pertama di desa tersebut, mendedikasikan hidupnya untuk membina umat hingga akhir hayatnya pada tahun 1368 Hijriah.

Hingga hari ini, pusat memori kolektif masyarakat Kalibalangan terhadap sang al-habib terpusat di kompleks Masjid Jami Al-Ikhlas. Di halaman atau area depan masjid inilah peristirahatan terakhir Sayyid Al Habib Abubakar bin Hussen Al-Atas berada. Kompleks masjid ini tidak sekadar menjadi tempat ibadah harian, melainkan telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata religi yang krusial di Provinsi Lampung.

Di samping bangunan masjid, terdapat  peninggalan autentik berupa sumur tua yang digali dan digunakan oleh sang habib semasa hidupnya. Sumur ini menyimpan keistimewaan tersendiri yang masyhur di tengah masyarakat dimana airnya tidak pernah surut atau kering, bahkan tatkala musim kemarau panjang melanda.

Hingga detik ini, air sumur tersebut kerap dimanfaatkan oleh para peziarah yang datang. Dengan izin Allah SWT, banyak dari mereka yang meyakini keberkahan air sumur ini sebagai sarana ikhtiar batin untuk membantu penyembuhan berbagai macam penyakit.

Dalam tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun oleh para tetua desa, Sayyid Al Habib Abubakar dikenal sebagai sosok ulama yang dikaruniai kedudukan tinggi di sisi-Nya, termasuk berbagai kisah karomah semasa hidupnya. Karomah tersebut bukanlah untuk disombongkan, melainkan sebagai bentuk penguatan mukjizat maknawi (maunah) yang mendampingi ketulusan dakwah beliau dalam merangkul masyarakat adat setempat untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya.

Atas izin Allah, harumnya nama dan perjuangan beliau menembus batas-batas teritorial Kabupaten. Kompleks makam Sayyid Al Habib Abubakar bin Hussen Al-Atas kini rutin dikunjungi oleh peziarah dari berbagai penjuru daerah mulai dari Kabupaten-kabupaten di sekitar Lampung, Provinsi Sumatera Selatan, hingga para pelancong rohani yang sengaja datang jauh-jauh dari Pulau Jawa.

Perjalanan religi ke makam beliau menawarkan pengalaman batin yang mendalam, mengingatkan kita pada hakikat kematian, menghidupkan kecintaan kepada para ulama (mahabbah al-awliya), serta mentauladani semangat pengorbanan tanpa pamrih dalam menegakkan kalimat tauhid di bumi pertiwi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!