LAMPUNG UTARA, Studio2News — Misteri hilangnya rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menemukan titik terang. Jenazah seorang pria yang ditemukan terdampar di pesisir Pulau Enggano, Bengkulu, teridentifikasi sebagai Surakman (60), anak buah kapal (ABK) dari speedboat Arupadhatu 1 yang mengangkut rombongan tersebut.
Kapal yang membawa total delapan orang, terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru, dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026). Keberadaan jasad Surakman pertama kali ditemukan oleh warga lokal di pesisir Desa Kahyapu, Pulau Enggano, pada Sabtu (12/9/2026).
Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Hutapea, mengungkapkan kondisi fisik jasad saat ditemukan pertama kali cukup mengenaskan. Wajah korban hancur, mengenakan celana pendek, serta bagian dada dan lutut memar menghitam akibat terombang-ambing di lautan.
“Saat awal ditemukan, tidak ada warga setempat yang mengaku kehilangan anggota keluarga. Karena kondisi jasad mulai membusuk dan mengeluarkan bau, masyarakat memutuskan untuk memakamkannya malam itu juga,” ujar Maruli.
Sehari pascapemakaman, Polda Banten langsung membangun komunikasi intensif dengan Polda Bengkulu untuk menyelaraskan data korban hilang Selat Sunda dengan temuan jasad di Enggano. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki berkoordinasi langsung dengan Kapolda Bengkulu guna menindaklanjuti temuan tersebut.
Pada Senin (14/9/2026), tim gabungan Kantor SAR Bengkulu bersama warga membongkar kembali makam korban. Jenazah diterbangkan menggunakan pesawat menuju RS Bhayangkara Polda Bengkulu untuk menjalani proses autopsi serta pengambilan sampel DNA oleh Tim DVI Biddokkes Polda Bengkulu yang dibantu Pusdokkes Polri.
Dalam konferensi pers resmi di Polda Banten pada Rabu (23/9/2026) siang yang dihadiri perwakilan keluarga korban, kepolisian memaparkan bukti visual berupa foto Surakman serta analisis lintasan arus laut.
Peta navigasi menunjukkan jarak dari titik perkiraan kecelakaan di sekitar Gunung Anak Krakatau hingga lokasi penemuan di Desa Kahyapu, Pulau Enggano (koordinat 05° 23′ 21″ LS, 102° 24′ 40″ BT) membentang sejauh 347,27 kilometer. Korban diperkirakan terseret gelombang kuat Samudra Hindia selama beberapa hari sebelum akhirnya terdampar.
Speedboat Arupadhatu 1 bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Kapal tersebut mengangkut delapan orang:
- 5 Jurnalis: Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (jurnalis freelance).
- 3 Kru Kapal: Warta (55, Kapten), Surakman (60, ABK), dan Heriyanto (49, Guide).
Sekitar pukul 14.42 WIB, M. Bagus Khoirunnas sempat membagikan koordinat lokasi terakhir dan mengirimkan foto kebersamaan mereka kepada istrinya, Desi Purnamasari. Komunikasi terakhir tercatat pada pukul 15.04 WIB sebelum seluruh sistem kontak terputus total. Pimpinan Antara Biro Banten kemudian resmi melapor ke Basarnas pada Selasa (8/9/2026).
Operasi pencarian besar-besaran telah digelar selama 10 hari oleh tim gabungan Basarnas Banten, SAR Lampung, TNI AL, serta armada kapal KN SAR Kamajaya dan Basudewa. Tim harus berhadapan dengan gelombang tinggi 1,5 hingga 2 meter, paparan debu vulkanik, serta cuaca ekstrem di sekitar Pulau Sertung, Rakata Besar, dan Pulau Panjang.
Meskipun sempat menemukan beberapa barang yang mengapung seperti terpal dan galon air, keberadaan tujuh korban lainnya belum berhasil ditemukan. Operasi SAR resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026). Kendati demikian, maklumat dan data para korban tetap disebarkan kepada seluruh kapal dan nelayan yang melintas di perairan Selat Sunda. (Red).













