Jakarta- Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (14/8/2026), menjadi momentum krusial untuk merefleksikan dinamika kebangsaan. Di hadapan jajaran pimpinan lembaga tinggi negara, Menteri Agama Nasaruddin Umar menggarisbawahi pentingnya integritas, keterbukaan terhadap kritik, serta kewaspadaan terhadap potensi disintegrasi moral bangsa.
Dalam sesi penyampaian doa penutup sidang, Nasaruddin menyoroti tantangan sosial-politik yang kerap dihadapi Indonesia, seperti penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, dan penurunan kepercayaan publik akibat isu-isu destruktif.
“Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah dan pengkhianatan. Selamatkan kami dari berbagai tipu daya dan rekayasa negatif,” ucap Nasaruddin di Gedung Nusantara.
Di luar pesan spiritual, narasi yang disampaikan Menag membawa pesan otokritik yang kuat bagi para penyelenggara negara. Ia menekankan bahwa kritik publik—selama didasari kebenaran—seharusnya dinilai sebagai instrumen evaluasi diri untuk perbaikan tata kelola pemerintahan, bukan dianggap sebagai ancaman.
“Sadarkanlah diri kami untuk mengoreksi diri jika fitnah dan kritikan mereka itu benar,” lanjutnya.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan tantangan demokrasi modern, di mana batas antara kritik konstruktif dan narasi tendensius kerap kabur. Penekanan pada pentingnya kebiasaan introspeksi (self-correction) dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas politik serta etika kepemimpinan Nasional di tengah arus informasi yang kian kompleks. (Red)













