Studio2News – Temuan fantastis sekaligus mengerikan mengguncang dunia pendidikan Indonesia. Sebanyak 995 pucuk senjata yang terdiri dari air gun, air rifle, hingga temuan senjata api asli dan komponen militer berhasil dibongkar dari sebuah ruangan dan area tersembunyi (bunker) di kompleks Yayasan Sekolah Swasta, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Ironisnya, ratusan senjata dalam jumlah masif ini disembunyikan di jantung lembaga pendidikan tempat anak-anak menimba ilmu. Tak hanya ratusan senjata, penggeledahan yang melibatkan aparat kepolisian dari Polres Metro Jakarta Selatan dan Polda Metro Jaya ini juga menemukan amunisi, alat pembuat peluru (reloading press), narkotika jenis ganja dan sabu, hingga kepingan CD pornografi.
Kepemilikan tumpukan senjata jumbo ini langsung memantik polemik panas dan saling lempar tanggung jawab di antara kubu yang berseteru di internal yayasan.Melalui kuasa hukumnya, Alhadid Endar Putra, pihak IWD mengakui bahwa 995 senjata tersebut adalah milik PT Lokta Karya Perbakin. Mereka mengklaim senjata-senjata tersebut berjenis air soft gun yang dilengkapi perizinan resmi dari Perbakin dan kepolisian (Nomor Polisi SI/5483-XII/2008) guna mendukung kegiatan ekstrakurikuler menembak dan panahan di sekolah sejak tahun 2021.
Namun, pihak IWD menolak keras bertanggung jawab atas temuan barang-barang haram lain di ruangan tersebut. Alhadid berdalih kliennya sudah tidak memiliki akses ke lingkungan yayasan sejak April 2026 akibat konflik internal dan aksi saling pecat di level pembina. Mereka justru meminta kepolisian memeriksa pihak kubu lawan yakni kubu Niniek Cs, Untung Sangadji beserta ormasnya, dan Bambang Prajitno yang kini menguasai sepihak kompleks sekolah tersebut.
Di sisi lain, Kuasa Hukum Yayasan, Hermawanto, menegaskan bahwa temuan awal pada 10-11 Juli 2026 dan pengembangan lanjutan pada Rabu (5/8/2026) malam mengungkap fakta yang jauh lebih mengkhawatirkan. Selain ribuan peluru mimis, ditemukan pula senjata jenis FN P90, AK-47, M4 Carbine, peredam (silencer), taser gun, hingga amunisi berbagai kaliber yang jauh melampaui standar perlengkapan ekstrakurikuler sekolah biasa.
Pihak yayasan mendesak Polda Metro Jaya untuk mengusut tuntas kasus ini secara serius karena menyangkut dimensi kepentingan publik serta keamanan nasional. Pasalnya, penyimpanan barang-barang berbahaya dalam skala sebesar itu dilakukan di dalam kompleks lembaga pendidikan anak-anak.
Kasus ini menyisakan sederet pertanyaan besar yang menuntut jawaban tegas dari aparat penegak hukum.
- Urgensi Militer di Lingkungan Pendidikan? Jika benar diklaim sebagai sarana ekstrakurikuler menembak, apakah rasional sebuah institusi pendidikan tingkat dasar hingga menengah menyimpan hampir 1.000 pucuk senjata beserta peralatan pabrikasi amunisi mandiri?
- Keterlibatan Barang Haram: Bagaimana menjelaskan keberadaan narkotika (sabu dan ganja) serta konten pornografi yang berdampingan langsung dengan inventaris senjata tersebut? Siapa pihak yang paling diuntungkan atau paling bertanggung jawab atas akses ruang tersembunyi itu selama masa konflik internal yayasan?
- Audit Perizinan Korporasi: Sejauh mana validitas izin atas nama PT Lokta Karya Perbakin terhadap realitas di lapangan, mengingat sebagian temuan melibatkan senjata laras panjang dan perlengkapan taktis militer aktif?
Publik kini menanti langkah tegas Polri untuk membongkar tuntas tabir gelap di balik tembok sekolah Yayasan Harapan Ibu. Menyelamatkan dunia pendidikan dari alih fungsi fasilitas menjadi tempat penyimpanan barang terlarang adalah harga mati demi keamanan nasional. (Red).













