Jejak Jari Ibu Bangsa, Air Mata di Balik Jahitan Sang Saka Merah Putih

Studio2News – Di sudut ruangan sederhana di Jakarta pertengahan 1945, suara konstan mesin jahit manual merek Singer memecah heningnya malam. Di depannya, duduk seorang perempuan muda berusia 22 tahun. Kondisi fisiknya amat rentan, perutnya membesar menanti kelahiran putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra. dokter telah melarangnya menggunakan kaki untuk memutar pedal mesin jahit demi keselamatan janin di kandungannya.

Namun, panggil janji kemerdekaan tak bisa menunggu. Dengan jemari telaten yang digerakkan secara manual, Fatmawati memutar roda mesin jahit itu pelan-pelan. Di tengah kelangkaan kain akibat pendudukan Jepang, lembaran kain merah dan putih yang didapatkan berkat bantuan Shimizu seorang perantara perundingan menjadi barang yang begitu mulia sekaligus langka. Di atas pangkuannya, dua warna itu bertaut. Dan di atas kain itu pula, air mata Fatmawati kerap menetes.

Ada campuran rasa yang mengharu biru dalam setiap tancapan jarumnya, rasa haru membayangkan Bangsa yang puluhan tahun terjajah sebentar lagi akan tegak berdiri, kesakitan fisik yang ia tahan demi janin di rahimnya, serta kerinduan mendalam akan masa depan Indonesia yang berdaulat. Fatmawati tak sekadar menjahit dua helai kain, ia sedang merajut martabat Bangsa yang kerap diinjak-injak.

Ketika fajar 17 Agustus 1945 menyingsing di Jalan Pegangsaan Timur 56, hasil jerih payah dan ketabahan hati sang Ibu Negara pertama itu membumbung tinggi ke udara. Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih berkibar gagah, diiringi alunan lagu Indonesia Raya dan isak tangis haru ribuan pasang mata.

Tahun-tahun berlalu, prinsip dan keteguhan hati Fatmawati tak pernah pudar. Sosok yang menolak poligami demi menjaga martabat wanita ini memutus langkah meninggalkan istana saat prinsip hidupnya diuji, membuktikan bahwa keberaniannya tak hanya ada pada jemari yang menjahit bendera, tetapi juga pada jiwa yang memegang teguh kehormatan.

Hingga kepulangannya ke Rahmatullah pada 14 Mei 1980 seusai menunaikan ibadah umrah, Indonesia tidak pernah melupakan helai demi helai benang yang pernah ia satukan. Hari ini, setiap kali Sang Merah Putih berkibar di bawah langit Nusantara, ada jejak cinta, kesabaran, dan perjuangan seorang ibu yang senantiasa berbisik lembut di sanubari kita, bahwa kemerdekaan ini dilahirkan dari rahim pengorbanan yang tulus.

Fatmawati lahir pada 5 Februari 1923 di Bengkulu dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah.  Salah satu nenek moyangnya adalah seorang putri dari Kesultanan Inderapura (Minangkabau).  Ketika ia bertemu Soekarno, ia masih remaja dan Soekarno saat itu sudah menikah dengan seorang wanita berusia 53 tahun bernama Inggit Garnasih. Tak heran, istri Soekarno enggan melepaskan suaminya, tetapi setelah dua tahun, Inggit setuju untuk bercerai. Soekarno membenarkan kebutuhan akan istri barunya dengan menyatakan keinginannya untuk memiliki anak yang dapat meneruskan namanya.

Pada tahun 1943, Fatmawati menjadi istri ketiga Soekarno. Pada tahun 1945, ia menjadi istrinya ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Bendera Negara baru dijahit oleh Fatmawati, dan bendera yang sama dikibarkan setiap tahun hingga tahun 1967. Meskipun ia adalah istri ketiga Soekarno, semua istri sebelumnya telah diceraikan sesuai dengan hukum Negara. Fatmawati oleh karena itu menjadi istri satu-satunya Soekarno pada saat itu.

Fatmawati dikenal anti dengan poligami Karena itu, setelah Soekarno meminta izin untuk menikahi Hartini pada 7 Juli 1953, Fatmawati memilih untuk meninggalkan Istana Negara.

Fatmawati meninggal dunia akibat serangan jantung pada 14 Mei 1980 di Kuala LumpurMalaysia, saat dalam perjalanan kembali ke Jakarta dari umrah di Makkah.  Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet BivakJakarta Pusat.

Fatmawati dan Soekarno menikah pada tanggal 1 Juni 1943 dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu:

Guntur Soekarnoputra (l. 3 November 1944), menikah dengan Henny Emilia Hendayani pada tanggal 16 Februari 1970. Mereka memiliki 1 orang putri.

Megawati Soekarnoputri (l. 23 Januari 1947), Presiden Ke-5 Republik Indonesia. Dia menikah pertama kali dengan Lettu Surindro Supjarso pada 1 Juni 1968 (w. 22 Januari 1970), menikah kedua kali dengan Hassan Gamal A. Hasan pada tanggal 22 Juni 1972 tetapi dibatalkan setelah 3 bulan, dan menikah terakhir kalinya dengan Taufiq Kiemas (31 Januari 1942 – 8 Juni 2013) pada 14 Maret 1973. Ia memiliki 3 orang anak.

Rachmawati Soekarnoputri (27 September 1950 – 3 Juli 2021), menikah pertama kali dengan Dr. Tommy Pariatman Marzuki pada 14 Maret 1969 dan bercerai pada tahun 1973. Dia menikah kedua kali dengan Dicky Suprapto (27 September 1947 – 3 April 2006) pada tahun 1975 dan bercerai. Dia menikah terakhir kalinya dengan Benny Sumarno (19 Mei 1949 – 2 April 2018) pada tahun 1995. Dia memiliki 3 orang anak.

Sukmawati Soekarnoputri (l. 26 Oktober 1951), menikah pertama kali dengan K. G. P. A. A. Mangkunegara IX (18 Agustus 1951 – 13 Agustus 2021) pada 16 September 1974 dan bercerai pada tahun 1983. Dia menikah kedua kali dengan Muhammad Hilmy (1954 – 29 Oktober 2018). Dia memiliki 3 orang anak.

Guruh Soekarnoputra (l. 13 Januari 1953), menikah dengan Guseynova Sabina Padmavati (l. 1959) pada tanggal 19 Oktober 2002.

Pada tanggal 4 November 2000, Presiden Abdurrahman Wahid menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi Fatmawati.

Tanda KehormatanBintang Republik Indonesia Adipradana (13 Agustus 1999) Bintang Mahaputera dan  Adipradana (11 Agustus 1994)

Nama Fatmawati diabadikan dalam Bandar Udara Fatmawati Soekarno di Kota Bengkulu dan RSUP Fatmawati di Jakarta SelatanDKI Jakarta. Nama Stasiun MRT Fatmawati, salah satu stasiun MRT Jakarta, diambil dari nama RSUP Fatmawati yang berada di dekat stasiun. Kediamannya di Bengkulu kini dijadikan museum. (Wikipedia/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!