Mempertaruhkan Nyawa di Bibir Pantai, Kisah 5.000 Jiwa di Bengkunat yang “Dilupakan” Waktu

Pesisir Barat – Di balik indahnya deburan ombak Pesisir Barat, Lampung, tersimpan jerit senyap ribuan warga Kecamatan Bengkunat. Terdengar lirih harapan dalam video yang viral di media sosial belakangan ini mengoyak hati publik, memperlihatkan perjuangan ekstrem warga yang harus bertaruh nyawa menerjang ombak berlumpur menggunakan gerobak sapi, demi membawa pulang kebutuhan pokok dan menjalani kegiatan lainnya diluar Desa mereka.

Bukan sehari atau dua hari, pemandangan memilukan ini telah menjadi makanan sehari-hari selama berpuluh-puluh tahun.

Bagi warga dari empat Desa di Bengkunat, perjalanan ke pasar bukan sekadar urusan belanja lalu pulang. Itu adalah suatu “ekspedisi” yang menguras fisik dan mental. Jarak yang ditempuh sebenarnya “hanya” sekitar 10 kilometer, namun medan yang harus dilalui mengubahnya menjadi jalur maut.

Warga harus pandai-pandai membaca alam. Jika salah menghitung waktu air pasang, taruhannya adalah nyawa atau hilangnya barang belanjaan dihantam ombak samudera.

“Kami baru pulang dari pasar membeli asbes. Kami berangkatnya kemarin. Karena perjalanannya ekstrem dan jauh, kami tidak bisa langsung pulang-pergi. Kami harus menginap dulu di sekitar pasar, berbelanja, dan baru bisa pulang keesokan harinya sembari menunggu air laut surut,” ujar salah seorang warga dalam rekaman video tersebut, suaranya parau menahan lelah.

Penggunaan gerobak sapi pun bukan pilihan gaya hidup, melainkan satu-satunya moda transportasi yang mampu bertahan di atas hamparan pasir basah dan jalanan berlumpur pekat. Ironi besar di tengah gembar-gembor kemajuan zaman, dan apalagi Preside RI Prabowo Subianto belum lama ini, telah berkunjung ke Pesisir Barat dan meresmikan Rumah Sakit nan megah

Kondisi tanpa sentuhan infrastruktur jalan ini membawa dampak yang jauh lebih mengerikan ketika urusannya adalah nyawa manusia. Ketika ada warga yang diserang penyakit kritis, atau seorang ibu yang sudah di ambang persalinan, asa mereka harus digantungkan pada sebilah bambu dan kain sarung.

Mereka harus ditandu berjalan kaki sejauh belasan kilometer menembus jalur ekstrem tersebut. Tidak jarang, nyawa tak tertolong lagi sebelum sempat menyentuh bangsal rumah sakit.

Secara administratif, wilayah ini bukanlah wilayah tak berpenghuni. Empat Desa di Kecamatan Bengkunat ini tercatat dihuni oleh lebih dari 2.000 Kepala Keluarga (KK) dan dipastikan dihuni oleh minimal 5.000 Jiwa

Namun, bagi warga setempat, angka-angka statistik itu seolah hanya menjadi pajangan saat pemilu tiba. Faktanya, hingga detik ini, kondisi jalan mereka masih murni tanah, lumpur, dan pasir pantai—80% wilayah mereka terisolasi dari peradaban yang layak.

Keputusasaan warga tampaknya telah mencapai puncaknya. Puluhan tahun bersuara tanpa gema membuat mereka mati rasa terhadap janji-janji politik di tingkat Daerah.

“Kalau mengandalkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, kami sudah tidak berharap lagi. Apa yang kami rasakan saat ini sudah terjadi dan kami lalui berpuluh-puluh tahun. Semoga saja secepatnya ada pihak-pihak yang betul-betul mau mendengar dan memperhatikan aspirasi kami di sini,” ratap warga penuh kepasrahan.

Jeritan dari pesisir Bengkunat ini adalah tamparan keras bagi keadilan sosial. Entah sampai kapan 5.000 jiwa di sana harus terus mengalah pada alam, bertaruh nyawa di bawah ancaman ombak, hanya untuk bertahan hidup di tanah airnya sendiri. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!