Keadilan Mati di Lampung Utara, Mahasiswa Kepung Gedung Pemda dan DPRD, Jangan Mau Jadi Kacung Cukong!

LAMPUNG UTARA, Studio2news – Suasana di depan kantor Pemkab dan DPRD Lampung Utara memanas pada Senin (29/6/2026). Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Lampung Utara menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk mosi tidak percaya terhadap penegakan keadilan dan buruknya pelayanan publik di wilayah tersebut.

Aksi yang diawali di depan kantor Pemerintah Daerah (Pemda) ini kemudian bergeser ke gedung DPRD Lampung Utara. Dengan membawa spanduk bertuliskan “Jangan Mau Jadi Kacung Cukong” dan “Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Keadilan di Lampung Utara”, mahasiswa menyuarakan keresahan mendalam atas dugaan intervensi kepentingan kelompok tertentu atau “cukong” dalam kebijakan daerah.

Ketua IMM Lampung Utara, M. Alfansyah Yusuf, dalam orasinya menegaskan bahwa penegakan hukum dan keadilan di Lampung Utara saat ini dinilai telah jauh dari keberpihakan kepada rakyat kecil.

“Kami menuntut pemerintah dan wakil rakyat berhenti menjadi alat bagi cukong. Keadilan harus tegak untuk rakyat, bukan untuk segelintir kelompok yang haus kekuasaan,” tegas Alfansyah di hadapan massa aksi.

Selain isu integritas, mahasiswa juga menyoroti tiga persoalan krusial yang dianggap menyengsarakan masyarakat diantaranya :

  1. Infrastruktur: Kondisi jalan dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan parah dan dibiarkan terbengkalai.
  2. Distribusi Bantuan: Penyaluran bantuan bahan pokok yang dinilai tidak merata dan tidak tepat sasaran.
  3. Pelayanan Kesehatan: Keluhan masyarakat terkait buruknya keramahan dan aksesibilitas pelayanan di fasilitas kesehatan daerah.

Aksi di depan gedung DPRD sempat diwarnai ketegangan. Massa aksi mencoba memaksa masuk ke gedung parlemen sebagai bentuk kekecewaan karena tidak ada anggota dewan yang berada di tempat. Akibatnya, aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat keamanan tak terelakkan.

Dalam situasi yang memanas, Ketua DPRD Lampung Utara, M. Yusrizal, mencoba meredam keadaan melalui sambungan video call. Ia menyampaikan permohonan maaf karena seluruh anggota DPRD sedang tidak berada di kantor.

“Kami sedang melaksanakan tugas konsultasi terkait KUA-PPAS di luar daerah. Atas nama pimpinan dewan, saya memohon maaf karena belum bisa menemui rekan-rekan mahasiswa secara langsung,” ujar Yusrizal dalam sambungan video.

Setelah situasi sempat mencekam selama hampir satu jam, akhirnya salah satu anggota DPRD Lampung Utara, William Mamora, tiba di lokasi sekitar pukul 12.26 WIB untuk menemui massa dan menerima aspirasi secara langsung.

Meski perwakilan dewan telah hadir, mahasiswa tetap menegaskan akan terus mengawal isu ini dan memastikan bahwa aspirasi yang mereka sampaikan tidak sekadar menjadi angin lalu, melainkan segera ditindaklanjuti dengan kebijakan yang pro-rakyat. (Yogi/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!