Jakarta- Penurunan tingkat aktivitas fisik yang diiringi dengan tingginya durasi menatap layar gawai (ponsel), kurangnya waktu tidur yang berkualitas, serta kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses dan minuman tinggi gula telah menjadi fenomena umum. Alhasil, rangkaian kebiasaan buruk tersebut ternyata membawa dampak yang signifikan terhadap kesehatan metabolisme tubuh anak.
Dampak nyata dari pergeseran gaya hidup tersebut adalah pergeseran demografi pada kasus diabetes tipe 2. Penyakit yang secara historis lebih sering dijumpai pada kelompok usia 40 hingga 50 tahun ke atas ini, kini mulai terdeteksi pada populasi remaja bahkan hingga anak-anak di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dalam acara pekan kesehatan di Jakarta pekan lalu, memberikan wawasan klinis terkait hal itu. Beliau menekankan bahwa kemunculan diabetes tipe 2 pada usia dini membuktikan bahwa faktor keturunan (hereditas) bukanlah satu-satunya pemicu utama. Gaya hidup sehari-hari justru memegang peranan yang jauh lebih krusial, mengingat karakteristik gangguan metabolik pada usia muda dapat berkembang lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa.
Menghadapi tantangan kesehatan ini, tenaga medis dan Pemerintah mendorong masyarakat untuk tidak perlu panik, melainkan mulai mengambil langkah pencegahan yang proaktif. Solusi utamanya tidak selalu bertumpu pada pengobatan medis, melainkan pada modifikasi gaya hidup yang dimulai dari rumah.
Beberapa langkah konstruktif yang disarankan meliputi:
- Membangun Kebiasaan Sehat di Rumah dengan embiasakan makan bersama dengan menu gizi seimbang, memastikan anak mendapat jam tidur yang cukup, dan membatasi waktu penggunaan gawai.
- Meningkatkan Aktivitas Fisik Keluarga dengan waktu luang di depan layar dengan bergerak aktif bersama. Wamenkes Dante mencontohkan kegiatan mendaki gunung bersama putranya sebagai salah satu cara efektif menjaga kebugaran sekaligus melakukan “detoksifikasi” dari gawai.
- Memanfaatkan Program Pemerintah, Pemerintah kini memfasilitasi pencegahan dini melalui program Cek Kesehatan Gratis yang menargetkan 25 juta anak sekolah. Dari sini, masalah kesehatan seperti hipertensi, anemia, hingga kesehatan gigi dapat dideteksi dan ditangani lebih awal.
- Bijak Membaca Label Makanan, penerapan program “Nutri-level” (sistem label A hingga D pada kemasan) akan sangat membantu keluarga dalam mengontrol dan membatasi asupan gula harian secara mandiri.
Pemerintah melalui pemangku Kesehatan masyarakat dituntut untuk lebih banyak melakukan edukasi menyeluruh dan pemerhatian kesehatan masyarakat serta berkolaborasi dengan pemangku pendidikan untuk pencegahan pada kebutuhan wajib anak pada gawai (Ponsel) serta kerap melakukan uji jajaan anak disekolah dan lainnya. (Red)













